Digital clock

Rabu, 10 Oktober 2012

Mengusir rasa kantuk saat belajar


Sering Ngantuk Saat Belajar? Ini Solusinya!

ShutterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com
 - "Serangan" kantuk seringkali datang saat kita tengah konsentrasi belajar. Mungkin tak sedikit di antara Anda yang pernah mengalaminya. Tak hanya saat belajar, rasa kantuk juga sering datang tanpa diundang saat tengah bekerja, membaca, atau mengemudi.

Rasa kantuk yang menyerang bisa jadi "musuh" besar bagi mereka yang memiliki target untuk mencapai suatu keinginan. Beberapa pelajar dan mahasiswa mengaku tidak dapat mencapai target yang diinginkan dalam belajar. Salah satunya karena kantuk yang seringkali datang saat belajar.

"Nafas cuci aura dapat menunda kantuk selama tiga jam," ungkap Linda Saptadji, Psikolog Yayasan Anak Indonesia Suka Membaca, di Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Nah, bagaimana metode pernafasan yang bisa menunda kantuk ini? Selain menghalau kantuk, metode ini juga bisa mengurangi nyeri akibat sakit kepala. Yuk, disimak!

1. Duduklah dengan posisi sembilan puluh derajat dan letakkan telapak tangan di atas paha untuk mencapai relaksasi. Tarik nafas dalam-dalam kemudian embuskan secara perlahan. Ulangi sampai tiga kali.

2. Masih dalam keadaan duduk dengan posisi sempurna, tutup lubang hidung sebelah kanan dengan menggunakan telunjuk, lalu ambil nafas dalam-dalam melalui lubang hidung sebelah kiri. Setelah menghirup udara dalam-dalam, tutup lubang hidung sebelah kiri dengan telunjuk dan embuskan pelan-pelan melalui lubang hidung sebelah kanan. Ulangi tiga kali.

3. Usap tangan beberapa kali hingga menimbulkan energi panas akibat gerakan kinetik, dan basuhlah tangan tersebut ke wajah anda. Anda akan merasakan kesegaran dan mampu beraktifitas selama tiga jam kedepan.

Selamat mencoba!!!




http://edukasi.kompas.com/read/2012/06/29/08441982/Sering.Ngantuk.Saat.Belajar.Ini.Solusinya.

Coba Kita Tingkatkan Konsentrasi Belajar Yuks


Susah Konsentrasi? Coba Tips Ini!

ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com 
— Menjaga konsentrasi saat belajar penting dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Nah, menjaga konsentrasi bisa dilakukan dengan mengurangi potensi gangguan dan fokus pada materi belajar. Jika Anda mendapati bahwa Anda kehilangan ide atau memori dengan apa yang telah Anda baca, atau mengalami kesulitan mencurahkan perhatian pada apa yang disampaikan pengajar, ada baiknya mencoba beberapa tips di bawah ini. Yuk, disimak!

1. Disiplinlah dengan jadwal belajar dan buatlah menjadi rutinitas. Caranya, dengan membuat jadwal belajar secara teratur. Hal ini akan membuat pola belajar Anda lebih efisien.

2. Belajar di tempat yang tenang.

3. Pada saat jeda atau istirahat belajar, coba lakukan sesuatu yang berbeda dari yang biasa Anda lakukan. Misalnya, berjalan-jalan (jika sebelumnya Anda duduk) ke sebuah tempat yang lain, di luar lokasi belajar.

4. Selalu ajukan pertanyaan untuk materi-materi yang telah Anda pelajari. Jangan melamun selama belajar!

5. Sebelum pelajaran, lihat lagi catatan sebelumnya dan baca bahan belajar selanjutnya untuk mempersiapkan segala ide atau materi yang akan disampaikan pengajar.

6.  Tunjukkan minat yang besar selama mengikuti pelajaran. Hal ini penting untuk memotivasi diri. 

7. Hindari gangguan-gangguan kecil yang bisa mengganggu konsentrasi Anda saat mengikuti pelajaran, dengan memilih duduk di bagian depan 
dan jauh dari teman yang biasanya bersama Anda. Dengan demikian, Anda akan fokus mendengarkan pengajar dan mencatat apa yang disampaikannya.Selamat mencoba!



http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/03/1056472/Susah.Konsentrasi.Coba.Tips.Ini?utm_source=edukasi&utm_medium=cpc&utm_campaign=artbox

Cara Mengatur Waktu Belajar Yang Menyenangkan

Belajar adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap orang, terutama oleh para pelajar. Hal ini merupakan usaha untuk memperoleh serapan ilmu yang maksimal. Agar sistem penyerapan ilmu menjadi maksimal belajar sebaiknya jangan hanya dilakukan di sekolah saja. Tapi, perlu dilakukan di rumah. Di rumah belajar itu bisa sangat termanajemen dengan adanya pengawasan dari orang tua. Akan tetapi tidak semua orang beruntung dalam hal ini. Banyak para pelajar yang mempunyai orang tua yang super sibuk sehingga tidak sempat lagi mengawasi anak-anaknya untuk belajar.

Dalam kasus ini, kemandirian anak sangatlah diperlukan. Tanpa adanya kontrol dari orang tua, hendaknya pelajar tersebut dapat menggunakan waktunya dengan baik, dapat mengatur waktu dengan maksimal. Sehingga tidak dihabiskan hanya dengan bermain. Berikut ini cara-cara untuk mengatur waktu sehingga waktu belajar dapat terkoordinir dengan baik.
·        Membuat daftar "Kerjaan". Tulislah hal-hal yang harus kamu kerjakan, kemudian putuskan apa yang dikerjakan sekarang, apa yang dikerjakan nanti, apa yang dikerjakan orang lain, dan apa yang bisa ditunda dulu pengerjaannya.
·        Membuat jadwal harian/mingguan. Catat janji temu, kelas dan pertemuan pada buku/tabel kronologis. Selalu mengetahui jadwal selama sehari, dan selalu pergi tidur dengan mengetahui kamu sudah siap untuk menyambut besok.
·        Merencanakan jadwal yang lebih panjang. Gunakan jadwal bulanan sehingga kamu selalu bisa merencanakan kegiatanmu lebih dulu. Jadwal ini juga bisa mengingatkanmu untuk membuat waktu luangmu dengan lebih nyaman.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rencana belajar yang efektif:
  • Beri waktu yang cukup untuk tidur, makan dan kegiatan hiburan.
  • Prioritaskan tugas-tugas.
  • Luangkan waktu untuk diskusi atau mengulang bahan sebelum kelas.
  • Atur waktu untuk mengulang langsung bahan pelajaran setelah kelas. Ingatlah bahwa kemungkinan terbesar untuk lupa terjadi dalam waktu 24 jam tanpa review.
  • Jadwalkan waktu 50 menit untuk setiap sesi belajar.
  • Pilih tempat yang nyaman (tidak mengganggu konsentrasi) untuk belajar.
  • Rencanakan juga "deadline".
  • Jadwalkan waktu belajarmu sebanyak mungkin pada pagi/siang/sore hari.
  • Jadwalkan review bahan pelajaran mingguan.
  • Hati-hati, jangan sampai diperbudak oleh jadwalmu sendiri!
Menerut para ahli, waktu yang efektif untuk para pelajar menyerap ilmu adalah 3-10 menit. Jika kita perhatikan realita yang ada, pendapat para ahli ini ada benarnya juga. Saya pribadi jika belajar terlalu lama, yang ada hanya pusing, capek, dan lain-lain. Dikarenakan hal itu ilmu yang masuk hanyalah sedikit dan terkadang tidak bertahan lama di otak atau cepat lupanya. Heee.
Bila sesuai pendapat para ahli tersebut, berikut ini contoh rencana belajar yang efektif:
1.      Belajarlah dengan rutin setiap hari tetapi dengan frekuensi waktu yang tidak telalalu lama. Banyak pelajar malas belajar setiap hari dan waktu belajar favorit mereka adalah ketika ingin ujian saja. Mereka mulai mengobrak abrik buku catatan mereka yang begitu banyak. Perlu diketahui hal ini tidaklah baik karena kapasitas otak kita terbatas dan tidak mampu menampung materi pelajaran yang menumpuk dalam satu hari itu saja.
2.      Atur waktu belajar anda sektia 5-10 menit saja. Misalnya: setelah pulang sekolah, makan siang kemudian istirahat. Setelah istirahat luangkan waktu 5 atau 10 menit membaca buku atau mempelajari materi yang ingin anda pelajari. Setelah magrib/isya luangkan waktu 5 atau 10 menit untuk belajar lagi kemudian tidur. Bangun pagi untuk sholat subuh bagi yang muslim, kemudian setelah itu luangkan waktu 5-10 untuk belajar. (ini hanya contoh dari saya, jika waktu belajar anda bisa anda atur sesuka anda akan tetapi sesuai pendapat para ahli diatas, aturlah waktu belajar yang tidak terlalu lama tetapi dengan frekuensi sering atau beberapa kali dalam sehari.)
3.      Dahulukan pelajaran yang dianggap sulit. Jadi dalam satu hari anda bisa belajar bukan hanya satu mata pelajaran saja. Misalnya setelah istirahat siang belajar Bahasa Inggris, setelah magrib/isya belajar MTK, setelah subuh belajar Kimia atau menggerjakan PR sekolah.
Inilah tips cara mengatur waktu belajar yang efektif. Semoga dengan ini belajar bukan lagi suatu hal yang sulit dan membebankan bagi kita semua apalagi sebagai siksaan. Dengan ini semoga belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. . 

http://belajarbahasainggrisonlinegratis.blogspot.com/2012/04/cara-mengatur-waktu-belajar-yang.html

Minggu, 30 September 2012

KARAKTERISTIK ANAK USIA SMP / REMAJA

A. Pengertian Remaja

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Masa remaja ini sering dianggap sebagai masa peralihan, dimana saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa. Menurut Anna Freud (dalam Yusuf. S, 2004) masa remaja juga dikenal dengan masa strom and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan psikis yang bervariasi. Pada masa ini remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan dan sebagai akibatnya akan muncul kekecewaan dan penderitaan, meningkatnya konflik dan pertentangan, impian dan khayalan, pacaran dan percintaan, keterasinagan dari kehidupan dewasa dan norma kebudayaan (Gunarsa, 1986).

Masa remaja merupakan masa untuk mencari identitas/jati diri. Individu ingin mendapat pengakuan tentang apa yang dapat ia hasilkan bagi orang lain. Apabila individu berhasil dalam masa ini maka akan diperoleh suatu kondisi yang disebut identity reputation (memperoleh identitas). Apabila mengalami kegagalan, akan mengalami Identity Diffusion (kekaburan identitas). Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya.

Fase-fase masa remaja (pubertas) menurut Monks dkk (2004) yaitu antara umur 12 – 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir.


B. Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Remaja Usia SMP

1. Pertumbuhan fisik
Pada masa remaja, pertumbuhan fisik mengalami perubahan lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Pada fase ini remaja memerlukan asupan gizi yang lebih, agar pertumbuhan bisa berjalan secara optimal. Perkembangan fisik remaja jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, serta otot-otot tubuh berkembang pesat.

2. Perkembangan seksual
Terdapat perbedaan tanda-tanda dalam perkembangan seksual pada remaja. Tanda-tanda perkembangan seksual pada anak laki-laki diantaranya alat reproduksi spermanya mulai berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan sperma. Sedangkan pada anak perempuan, bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi yang pertama.

Terdapat ciri lain pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki pada lehernya menonjol buah jakun yang bisa membuat nada suaranya pecah; didaerah wajah, ketiak, dan di sekitar kemaluannya mulai tumbuh bulu-bulu atau rambut; kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-porinya meluas. Pada anak perempuan, diwajahnya mulai tumbuh jerawat, hal ini dikarenakan produksi hormon dalam tubuhnya meningkat. Pinggul membesar bertambah lebar dan bulat akibat dari membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit. Payudara membesar dan rambut tumbuh di daerah ketiak dan sekitar kemaluan. Suara menjadi lebih penuh dan merdu.

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.

Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.

3. Cara berfikir kausalitas
Hal ini menyangkut tentang hubungan sebab akibat. Remaja sudah mulai berfikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil. Mereka tidak akan terima jika dilarang melakukan sesuatu oleh orang yang lebih tua tanpa diberikan penjelasan yang logis. Misalnya, remaja makan didepan pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata “pantang”. Sebagai remaja mereka akan menanyakan mengapa hal itu tidak boleh dilakukan dan jika orang tua tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan maka dia akan tetap melakukannya. Apabila guru/pendidik dan oarang tua tidak memahami cara berfikir remaja, akibatnya akan menimbulkan kenakalan remaja berupa perkelahian antar pelajar.

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.

Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.

4. Emosi yang meluap-meluap
Emosi pada remaja masih labil, karena erat hubungannya dengan keadaan hormon. Mereka belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Dalam satu waktu mereka akan kelihatan sangat senang sekali tetapi mereka tiba-tiba langsung bisa menjadi sedih atau marah. Contohnya pada remaja yang baru putus cinta atau remaja yang tersinggung perasaannya. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistis. Saat melakukan sesuatu mereka hanya menuruti ego dalam diri tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.

5. Perkembangan Sosial
Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku.
Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Ketrampilan-ketrampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Ketrampilan tersebut harus mulai dikembangkan sejak masih anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu yang cukup buat anak-anak untuk bermain atau bercanda dengan teman-teman sebaya, memberikan tugas dan tanggungjawab sesuai perkembangan anak, dsb. Dengan mengembangkan ketrampilan tersebut sejak dini maka akan memudahkan anak dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat.

Ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting manakala anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Kegagalan remaja dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.

Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka amatlah penting bagi remaja untuk dapat mengembangkan ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan.

Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja madya dan remaja akhir adalah memiliki ketrampilan sosial (sosial skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Ketrampilan-ketrampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dsb. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan maksimal. Jadi tidak mengherankan jika pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dari ingkungannya dan berusaha mendapatkan status atau peranan, misalnya mengikuti kegiatan remaja dikampung dan dia diberi peranan dimana dia bisa menjalankan peranan itu dengan baik. Sebaliknya jika remaja tidak diberi peranan, dia akan melakukan perbuatan untuk menarik perhatian lingkungan sekitar dan biasanya cenderung ke arah perilaku negatif.

Salah satu pola hubungan sosial remaja diwujudkan dengan membentuk satu kelompok. Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomorduakan, sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Contohnya, apabila seorang remaja dihadapkan pada suatu pilihan untuk mengikuti acara keluarga dan berkumpul dengan teman-teman, maka dia akan lebih memilih untuk pergi dengan teman-teman.

Pola hubungan sosial remaja lain adalah dimulainya rasa tertarik pada lawan jenisnya dan mulai mengenal istilah pacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang mengerti dan melarangnya maka akan menimbulkan masalah sehingga remaja cenderung akan bersikap tertutup pada orang tua mereka. Anak perempuan secara biologis dan karakter lebih cepat matang daripada anak laki-laki.

6. Perkembangan Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.

Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.

7. Perkembangan Kepribadian
Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Karena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. Disinilah pentingnya orangtua memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik seperti materi atau penampilan.


KESIMPULAN

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasan usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Masa remaja ini sering dianggap sebagai masa peralihan, dimana saat-saat ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilihat dari pertumbuhan fisiknya ia belum dapat dikatakan orang dewasa.

Fase-fase masa remaja (pubertas) menurut Monks dkk (2004) yaitu antara umur 12 – 21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir.

Karakteristik anak remaja bisa dilihat dalam beberapa aspek, yaitu dari Pertumbuhan fisik, perkembangan seksual, cara berfikir kausalitas, emosi yang meluap-luap, perkembangan sosial, perkembangan moral dan perkembangan kepribadian.

Remaja diharapkan lebih mengerti dirinya sendiri dan dimengerti orang lain, sehingga dapat menjalani persiapan masa dewasa dengan lancar. Dengan memanfaatkan semua kesempatan yang tersedia, terbentuklah kepribadian yang terpadu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta

Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK Gunung Mulia

Hurlock, E. 1980. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta : Erlangga

Kartono, K. 1979. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni

Monk, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Zulkifli, L.. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya


Perkembangan Balita Usia 13-14 bulan

Dengan tertatih balita kita akan mulai belajar berjalan. Dia akan mulai berjalan oleng beberapa langkah tanpa dibantu. Duh, sungguh menakjubkan langkah pertama nya itu !...
Padahal, lilin ulang tahun pertama baru saja ditiup oleh balita kita bulan lalu. Saat inilah balita mulai memasuki tahun kedua kehidupannya. Saat itu balita masih mengalami kesulitan untuk menaiki dan menuruni tangga. Tapi walau begitu keinginannya untuk berkeliling ruangan mengamati benda-benda di sekitarnya akan sangat besar.

Tidak usah terlalu khawatir apabila balita sering terjatuh. Karena sebenarnya itu merupakan proses dalam belajar nya. Sering-seringlah ajak balita untuk berjalan diatas rumput, di atas pasir atau di atas tanah. Tapi hati-hati dengan benda-benda tajam yang bisa melukainya. Di usia 14 bulan setelah balita sudah berjalan dan terjatuh berkali-kali, maka dia akan mulai mendapatkan kepercayaan dirinya. Saat itulah balita mulai senang memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Mendorong-dorong kursi, tempat sampah,dan barang-barang lain terlihat betapa energi balita seakan tiada habisnya. Dia begitu antusias menjelajah.

Walaupun sudah menunjukkan minat untuk mencoret-coret, tapi balita masih kesulitan untuk memegang crayon nya. Biarkan saja dia bereksplorasi dengan berbagai coretan khayalannya. Di usia 13 bulan, dia juga akan belajar memasukkan dan mengeluarkan benda dari tempatnya berulang-ulang kali. Dia memasukkan kotak kemudian mengeluarkannya dengan melemparkannya. Hati-hati dengan barang yang mudah pecah di sekelilingnya.

Kita juga bisa ikut bermain dengan menyusun menara kecil dari beberapa kotak balok yang pasti akan langsung dirobohkannya setelah itu. Buatlah permainan “membangun dan merobohkan menara” ini sebagai saat untuk anak berinteraksi dengan kita orang tuanya. Bisa sambil tertawa-tawa, saling menggelitik dan sebagainya.

Di usia 14 bulan, anak mulai tertarik menyentuh apapun. Dia akan memegang semua benda yang dia anggap menarik baik warna maupun bentuknya. Sebenarnya mereka sedang mengasah panca inderanya. Ajak mereka untuk memegang beberapa benda dengan tekstur yang berbeda.

Ada beberapa anak yang sudah mulai bisa mengucapkan kata tunggal. Mereka sudah mulai menunjukkan kemampuan bicaranya dengan menggumamkan satu dua patah kata dengan jelas misalnya “Mama”, “Papa” atau “Mimik”. Pujilah dia bila sudah berhasil mengucapkan kata itu dengan baik.

Kita sebagai orang tua juga sudah mulai tahu apa kemauan dan keinginan balita dari bahasa tubuh dan bahasa simbol yang digunakannya. Contohnya, saat balita merasa haus, dia akan menyodorkan gelasnya sambil berkata “em..ma”, walaupun kata-katanya masih tak jelas tapi bahasa tubuhnya menegaskan “Tolong bunda, aku haus nih minta minum dong”.  Untuk melatihnya berbicara mengungkapkan perasaannya, kita bisa ulangi permintaanya “Dedek mau minum ? Haus ya sayang…”.

Perkembangan luar biasa balita tersebut memang tak bisa lepas dari kesabaran dan dukungan penuh kita sebagai orang tua.

KELOMPOK BELAJAR


KELOMPOK BELAJAR


Pengertian Kegiatan Kelompok Belajar
Pengertian kelompok belajar/ belajar kelompok adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan bersama – sama guna menyelesaiakan persoalan – persoalan yang berkaitan dengan belajar. Tujuan dari belajar kelompok adalah melatih siswa untuk bersosialisasi dan kerjasama. Manfaat yang didapat siswa dari belajar kelompok antara lain :
1.    Dapat meningkatkan motivasi/ keinginan untuk belajar
2.    Melatih siswa untuk saling menghargai pendapat teman dan berani mengungkapkan masalah
3.    Pekerjaan menjadi lebih ringan dan cepat terselesaikan karena saling membantu
4.    Melatih siswa untuk belajar bekerjasama

Hal – hal yang diperhatikan dalam kegiatan kelomok belajar adalah :
1.      Pembentukan kelompok
Kelompok dalam KKB dibentuk atas bimbingan wali kelas, guru pembimbing atau prakarsa siswa sendiri. Besarnya anggota KKB 5 – 8 orang, apabila KKB terlalu banyak anggotannya dimungkinkan akan berubah fungsinya menjai arena gossip. Dalam pembentukan KKB perlu diperhatikan:
a.       Jarak antar rumah dengan tempat belajar.
b.      Kemampuan anggota.
c.       Kualitas anggota.
d.      Jenis kelamin, diusahakan tiap kelompok terdapat siswa putra dan putrid.
e.       Musyawarahkan nama kelompok, tetapkan nama yang menarik dan bermakna, nama kota/ Negara/ tempat yang menarik dan semua anggota kelompok menjadi bangga bila nama itu disebut. Contoh nama kelompok :
ARAGANI           : Anak Rajin Gabung Di Sini
CLEOPATRA    : Clubnya Orang Patuh Dan Trampil
ALBATROZ       : Anak Rajin Zopan dan Bijaksana
PITAGORAS     : Pintar Tangguh Gotong Royong Rajin dan Semangat.
PITALOKA        : Pintar Tangguh Loyal dan Kompak.
f.       Selanjutnya rumuskan aturan/ tata tertib kelompok. Tetapkan aturan – aturan yang berkaitan dengan kedisiplinan, kerapian, kerajinan, kesopanan, kekompakan dan motivasi pencapaian prestasi belajar. Contoh :
ü  Pasal 1 : Semua anggota kelompok harus selalu berpenampilan rapi.
ü  Pasal 2 : Semua anggota kelompk harus saling menjaga kekompakan dsb
g.      Lengkapi aturan/ tata tertib kelompok dengan sanksi bagi pelanggran. Hindari sanksi/ hukuman fisik, rumusan sanksi yang bersifat kreatif dan mendidik, yang bila sanksi itu diterapkan justru bisa menambah kekompakan dan keakraban. Contohnya membawa makanan ringan saat pertemuan kelompok sebatas kemampuan, membersihkan meja kursi anggota selama 3 hari berturut – turut, menggantikan kerja piket, mentraktir anggota kelompok sebatas kemampuan dll.

2.      Tempat belajar
Tempat penyelanggraan KKB diantarannya :
a.       Di rumah anggota dengan diatur bergiliran.
b.      Di ruang kelas pada sore hari.
c.       Di tempat lain yang memenuhi syarat antara lain adanya meja, kuris, penerangan dan kenyamanan.

3.      Persiapan belajar
Agar KKB benar – benar bermanfaat, setiap anggota wajib menyiapkan bahan – bahan dan alat – alat belajar. Bahan dapat berupa soal – soal yang akan diselesaikan PR, tugas – tugas yang akan dilaporkan hasilnya dab sebagainnya. Alat – alat dan sumber belajar sepeti buku refrensi dan kamus harus pula disiapkan.

4.      Pengantar bicara
Secara bergiliran tiap pertemuan KKB diantarkan oleh seorang anggota, untuk membuka suatu pertemuan dan menyebutkan apa yang akan dibahas agar tujuan KKB tidak menyimpang. Pembuka pertemuan sekaligus bertindak sebagai ketua saat itu.

5.      Waktu belajar
Waktu pelaksanaan KKB harus dijadwalkan hari dan waktunya/ jam berapa. Setiap anggota harus disiplin mentaati jadwal yang telah disepakati. Lama pelaksanaan bias 1,5 jam efektif ditambah 15 menit istirahat. Waktu yang terlalu lama dimungkinkan digunakan untuk bergurau dan mengobrol.

6.      Cara pelaksanaan
Berbagai cara untuk membangkitkan KKB diantarannya :
a.      Membahas dan menyelesaikan soal.
b.      Tanya jawab.
c.       Memahami kata dan istilah yang cukup kompleks.
d.      Mencatat pertanyaan untuk diajukan kepada guru di kelas dan lain – lain.
Hal yang sangat berharga dalam KKB yang tersimpan dalam sanubari para anggota setelah dewasa adalah “kenagan indah” saat aktifitas KKB. Masih tersimpan jelas kesan – kesan kehidupan remaja pada saat mengadakan KKB dengan kelompoknya yang penuh suka – suka. Nama – nama anggota KKB seakan terpatri dalam batin dan menjadi sejarah kehidupan yang sulit dilupakan.